daunrerumputilalang


Mc.D I’m Coming
April 20, 2009, 12:28 pm
Filed under: Cerpen

Siapa yang nggak kenal Mc.D hari gini? Siapa yang nggak pernah ke Mc.D sekarang?

Ini bukan cerita tahun 2009, tapi cerita tahun 2000 alias Sembilan tahun yang lalu. Jadi jangan aneh kalau Evi dan kawan-kawan baru pertama kali ke Mc.D.

Mc.D didirikan tahun 1940 dengan dibukanya sebuah restoran oleh Dick dan Mac McDonald, di San Bernardino, California. Mereka memperkenalkan “Speedee Service System” pada tahun 1948, yang kemudian menjadi pinsip dasar restoran siap-saji moderen. Maskot awal McDonald’s, yang bernama Speede, adalah seorang pria dengan kepala berbentuk hamburger yang menggunakan topi koki. Speede kemudian digantikan oleh Ronald McDonald di tahun 1963.

McDonald’s saat ini tidak menjadikan tahun 1940 sebagai tahun kelahiran restoran McDonald’s. Mereka memilih 15 April 1955, ketika Ray Kroc membeli lisensi waralaba McDonald’s dari Dick dan Mac di Des Plaines, Illinois, sebagai hari kelahirannya. Kroc kemudian membeli saham dari McDonald’s bersaudara dan memimpin perusahaan ini melakukan ekspansi ke seluruh dunia.

Restoran McDonald’s pertama di Indonesia terletak di Sarinah, Jakarta dan dibuka pada 23 Februari 1991. Berbeda dari kebanyakan restoran McDonald’s di luar negeri, McDonald’s juga menjual ayam goreng dan nasi di restoran-restorannya di Indonesia. Awalnya Mc Donald masuk ke Indonesia pertama kali sebagai perusahaan burger dan kentang. Karena masyarakat Indonesia tidak terbiasa makan burger dan kentang, segmennya jadi sangat terbatas. Inovasi produk pun dilakukan yaitu berupa tersedianya ayam goreng dan nasi. Dengan langkah tersebut, Mc Donald berhasil meraih pasar.

Dengan ekspansi agresifnya ke seluruh penjuru dunia, McDonald’s dijadikan sebagai simbol globalisasi dan penyebar gaya hidup orang Amerika.

Globalisasi dan gaya hidup yang berasal dari Amerika ini ternyata kurang cocok diterapkan di Indonesia pada awalnya. Pantas saja jika terjadi culture shock atau kejutan budaya. Mau bukti? Simak cerita Evi dan kawan-kawan.

Cerita berawal dari sore hari yang cerah, dimana sekelompok orang sedang minum kopi untuk sekedar melepas lelah. Ruangan yang luasnya 3×6 meter itu diisi oleh sekitar lima orang. Mereka adalah Evi, Eva, Gehenk (yang kalau di bahasa Indonesiakan artinya hitam banget gara-gara kebakar matahari-red), Dian, dan Cepi. Iseng-iseng mereka ngobrolin tentang makanan dan layanan pesan-antar, yang merujuk pada satu tempat makanan yaitu Mc.D.

“Lapar nggak? Kita telpon aja yuk 14045.” Usul Gehenk.

“Alah kaya yang pernah aja makan di Mc.D, biasa juga makan di warteg.” Ledek Cepi.

“Ya pernah dong. Tapi udah lama sih. Kapan ya?” Gehenk mencoba mengingat-ingat.

“Eh pertama kali ke Mc.D kalian pernah ngalamin yang aneh-aneh nggak?” Tanya Evi.

“Maksudnya?” Eva bertanya balik.

“Gini, dulu pertama kali ke Mc.D kelas satu SMU. Tahun 2000, waktu itu kan Mc.D blom sekesohor sekarang. Nah ceritanya, pas mau cuci tangan V bingung. Keran airnya kan rada aneh gitu, ga bisa diputer, tapi diteken. V puter-puter airnya nggak keluar-keluar, mana yang mau cuci tangan ngantri lagi. Maluuuu… banget. Eh, ada cowok di sebelah neken keran, airnya keluar. V ikutin aja. Tahunya, di atas keran ada tulisan TEKAN DI SINI. Ih malu banget deh.”

“Huahaha… bodo banget!” Komentar Eva.

“Hehehe.. tapi eik juga pernah tuh kaya gitu. Waktu itu, eik lagi kencan sama pacar. Si pacar ngajak ke Mc.D. padahal eik nggak tahu menahu soal Mc.D, baru pertama kali sih. Kita masuk aja ke dalam, eik langsung duduk aja di meja terdekat, si pacar ngajak pesen makanan. Eik bilang aja samain makanannya, padahal eik nggak ngerti gimana pesennya. Biasanya kan kalau di restoran kita dilayanin sama waiter, tapi di Mc.D kita yang mesti bawa pesen dan bawa makanan sendiri. Anehnya juga pesennya di kasir. Untung si pacar baik, dia mau pesenin plus bawain makanannya. Dia aja nggak tahu kalau eik gagap Mc.D.”

Mereka semua terpingkal-pingkal sambil memegang perut.

“Itu mah pengalamannya sama kayak sayah. Bedanya pacar sayah mah nggak baik, dia maksa sayah ikut ke kasir buat pesen, soalnya dia juga baru pertama kali ke Mc.D. karena kita berdua sama-sama nggak ngerti gimana pesennya kita asal tunjuk aja ke papan menu. Kebetulan lagi ada promo gitu, yang pake jam pasir. Kalau makanannya belum siap pada saat pasirnya jatuh semua ke bawah, kita dikasih bonus kentang goreng, kalau nggak salah. Ya udah saya nyoba aja, Mc.D lagi penuh banget soalnya jam makan siang, jadi aja pasirnya udah jatuh semua, makanan belom siap. Si pelayan ngasih sayah bonus kentang. Sayah bilang aja bonusnya boleh nggak diganti sama jam pasir? Eh malah diketawain sama pelayannya.” Kenang Cepi sambil tertawa-tawa.

Mereka semua kembali terpingkal-pingkal, kali ini lebih heboh sambil mukul-mukul kursi.

“Parah-parah…” komentar Evi setelah semua tawa mereka mereda.

“Wah Kalau temen Va ada yang lebih lucu lagi pengalamannya. Namanya Anggi. Ceritanya, abis pulang sekolah kita segank makan di Mc.D. Tiba-tiba Anggi permisi mau ke WC. Keluar dari WC rok sekolahnya basah banget. Kita ketawain Anggi, kita kira dia kencing di rok, tahunya… WC Mc.D beda sama WC di rumah-rumah kita, WCnya nggak jongkok tapi duduk. Udah duduk, nggak ada ember sama gayung. Anggi bingung mau cebok gimana, ternyata di bawah ada semacam keran. Karena penasaran, Anggi puter kerannya, tahunya ada air keluar dari WC duduk itu dari semacam pengait yang ternyata saluran air buat cebok. Basah deh roknya. Anggi matiin kerannya. Tapi nggak nyerah buat cebok, akhirnya diteken deh tombol buat nyiram air, nah keluar kan air dari pinggir-pinggir WC duduk. Anggi ambilin airnya pake tangan dari situ buat cebok”

Mereka ngakak sampai muka menjadi merah dan air keluar dari sela-sela mata.

“Bener-bener deh kalian, emang parah banget! Untung aja aku belum pernah ke Mc.D.” ucap Dian yang dari tadi nggak berkomentar banyak



Baumu Ada disekujur Tubuhku
February 12, 2009, 9:57 pm
Filed under: puisi

Baumu ada disekujut tubuhku

Baumu ada disekujur tubuhku

Baunya sama persis dengan kemeja

Yang sengaja kau titipkan untuk dicuci

Menempel pada sudut ingatan

Layaknya rambut yang tumbuh dikepala

Rontok sedikitsedikit namun kembali tumbuh

Baumu ada disekujurtubuhku

Menebarkan pesona pada mimpimimpi

Janggal, nakal, tak mau diam

Hilir mudik tanpa permisi

Baumu ada disekujurtubuhku

Tapi aku tak yakin akan tinggal

Hanya mampir mungkin

Tapi tak usah risau

Baumu masih hidup di sudut ingatan

13 Februari 2009



Setelah Kematian
January 28, 2009, 10:00 am
Filed under: puisi

Setelah Kematian

: 40hari El

Kematian menjelma tasbih air mata

Kematian menjelma dinding penuh dosa

Kematianmu adalah kematianku yang tertunda

Kematianmutelah mengakar di jantungku

Kematian membawaku kesebuah rasa yang bersahaja

Seperti rindu sebilah pedang pada sarungnya

Bandung, 28 Januari 2009



Peri Komedi Putar
July 2, 2008, 8:23 am
Filed under: puisi

Ada komedi
putar di kepalanya

Ia terus
menghitung jarak

Menekuni malam
hingga lampu-lampu ditelinganya menyala

Di sisinya
ada dua peri berbadan besar

Peri-peri
itu mengerti ia ingin menjadi ibu maka mereka menjadi anak

ia
permainkan semesta ia jungkirbalikan masa

ia ingin
menjadi legenda

maka
peri-peri itu menjadi sejarah yang mencatatnya

 

Warnet, 2
Juli 2008



Apa Kabar, Tuan Penyair?
March 26, 2008, 9:29 am
Filed under: puisi

Apa kabar, tuan penyair?

Ceritakanlah padaku tentang karyamu yang besar itu?

Tentang kebesaran dan rasa hausmu akan puisi

Tentang rambut ikalmu yang terurai

 

Apa kabar, tuan penyair?

Masih sudikah kau menyapaku jika kita berpapasan di jalan?

Atau sekedar tersenyum bila berjumpa disebuah diskusi?

Apakah aku terlalu kecil untukmu yang telah besar?

 

Apa kabar, tuan penyair?

Bukan kah kita masih sama-sama muda

Dan kita berangkat bersama dari kata muda?

Tapi bukan masalah muda atau tua

Kita mungkin harus bicara soal mapan atau tidak

Konsisten atau tidak konsisten?

 

Apa kabar, tuan penyair?

Aku membaca beberapa sajakmu di media

Fasih kau bicara cinta, bicara tentang sosial, bicara tentang apa saja

Sayang, tuan penyair kau lupa akan etika

 

Bandung, 26 Maret 2008



Disekap
March 20, 2007, 8:20 am
Filed under: puisi

Disekap

 

Perempuan disekap gelap

  hujan

  malam

  kepedihan

  kesunyian

  luka

 

Karena peperangan tidak berada di

medan

perang

tetapi dalam dirinya sendiri!

 

20 Maret 2007



Naskah BesarNya
March 20, 2007, 8:14 am
Filed under: puisi

Naskah Besar-Nya

kertas putih itu telah tertulis
sebuah peran yang Kau anugerahkan
kami membaca, melakoninya
berharap sewaktu-waktu
naskah itu bisa berubah
atas seijinMu

20 Maret 2007



Syair Air
March 20, 2007, 8:08 am
Filed under: puisi

Syair Air

: Sunlie Thomas Alexander

 

Bukankah danau adalah surga bagi air, sun

Seperti pun samudera

Dan perahu bagai kerangkeng

Kenapa tak hadirkan saja canal dan sampan?

 

manusia memang tak pernah benar sepotong daging

ia berpasangan dengan tulang

dan semua itu tak cukup membuktikan kemanusiaan

 

aku tak mau naik perahu, sun!

karena aku adalah air, tempatmu mendayung

 

Bandung

,
20 Maret 2007

 



Sependil Lumpur
March 20, 2007, 8:03 am
Filed under: puisi

Sependil Lumpur

 

Mengapa sependil Lumpur

Mesti jadi misteri
bagiku

Yang telah benar
telanjang

Tanpa rahasia?

 

Mengapa sependil
Lumpur

Tetap menjadi milikmu

Yang telah menyerahkan

Lapang dadanya?

 

Mengapa sependil
Lumpur

Mesti jadi tekateki buatku

Yang telah meluluskan

Telaga berwujud air
mata?

 

Mengapa sependil
Lumpur

Tetap menjadi bagianmu

Yang telah memasrahkan

Jiwanya untuk
mencintai?

 

Sedang kita

Telah bersenyawa

Dalam candu para dewa,

Meskikah ada sependil
Lumpur?

 

16 Maret 2007



Serupa Mu
March 20, 2007, 8:01 am
Filed under: puisi

Serupa Mu

 

Serupa tetestetes
hujan

Ingin aku bersembunyi

Di balik gelombang
rambutmu

 

Serupa angin

Ingin aku membelai

Ikal rambutmu wangi
matahari

 

Serupa mu

Ingin aku mengekalkan

Sepenggal raga menyatu

 

16 Maret 2007