Games
rasa kantuk hilang seketika
kumainkan mouse dengan lincah
dan bola-bola itu berloncatan
nilai kian melambung
tingkat kesulitan makin menantang adrenalinku
ayo!
dan aku keluar sebagai pemenang
dalam pertarunganku dengan mesin bernama komputer!
suatu-siang-yang-basah-oleh-gerimis-dan-rasa-kantuk-yang menyerang-dengan-hebat-warnet-daun-21-september-2005-bounce-out-blitz
September Ceria
September Ceria
Begitulah kunamai bulan ini…
Bulan keberuntunganku yang kedua sejak 6 tahun yang lalu.
Aku adalah orang yang sangat percaya mitos. Mitos-mitos itu kucari, kupercayai dan kuciptakan sendiri. Maka jadilah bulan September ini menjadi bulan keberuntunganku yang kedua setelah bulan juli.
Entahlah, awalnya memang begitu. Tapi satu-persatu keberuntungan mulai menghampiri. Dari mulai dapat kerjaan baru. Seseorang mengajak ku berkomitmen (ini sangat indah), pertemanan disana-sini mulai membaik, sampai sebuah penawaran untuk memerankan sebuah monolog sederhana dari seorang senior di STUBA. Aku yang haus akan pementasan teater ini tak mampu menolak walaupun tahu untuk menjalaninya butuh perjuangan dan pengorbanan.
Sampai sesuatu yang dilematik menghampiriku. Rasanya memang tidak indah jika tak ada pertentangan, kegelisahan, keresahan, kesepian, kesunyian, kesedihan yang membuat larut dan menerbitkan kelegaan yang sangat… begitulah September menjadi sangat lengkap.
Dilematik memang, ketika aku tidak mau dipimpin oleh seseorang sementara dilain pihak setengah mati aku tidak mau memimpin. Ketakutan itu merajai tubuh yang kian rikuh. Aku sedang labil ketika dilematik itu ditawarkan. Aku tak ingin mengecewakan pihak-pihak yang mempercayaiku. Namun rasa ragu untuk berjalan itu pun sama kuatnya.
Kini aku di persimpangan, dan mau tak mau harus siap untuk membuat pilihan. Mitos-mitos itu mulai meresap ke ubun-ubunku. Aku butuh kekuatan, maka akan kuciptakan mitos baru dan mempercayainya sepenuhnya. September dan planet yang menguasainya akan membimbing jalanku menuju keberuntungan. Semoga September akan selalu menjadi ceria bagiku hingga akhirnya.
20 September 2005
STUBA: PELOPOR TEATER MULTIMEDIA DI BANDUNG
“Mirah, saya ‘kan sudah bilang, anak yang kamu anggap ada itu hanya karang-karangan. Anak lanang yang kamu cita-citakan hanya bayang-bayang wayang Raden Gatotkaca idolamu saja!…”
Petikan di atas terlantun dalam monolog Masmirah, salah satu pagelaran STUBA yang diikutsertakan dalam Festival Monolog di STSI Bandung, 2005. Saat itu STUBA sebagai salah satu wadah bergiat bagi para teaterwan muda di Bandung, mencoba tetap eksis dalam dunia teater dengan mengikuti perkembangan teater terkini.
Terlahir dari kegelisahan-kegelisahan yang mendorong untuk berkesenian, terbentuklah organisasi yang dirintis oleh beberapa mahasiswa dari jurusan Ushuluddin yang kemudian diikuti oleh mahasiswa dari berbagai jurusan yang ada di Universitas Islam Bandung (Unisba). Studi Teater Unisba yang kerap disingkat STUBA sendiri berdiri pada tanggal 9 Oktober 1989. Sebuah organsisasi kampus yang mencoba eksis, di bidang kesenian terutama teater, musik dan baru-baru ini bergerak di rupa.
Stuba mempunyai visi dan misi yaitu ibadah dan dakwah. Banyak orang yang menyempitkan makna ibadah dan dakwah tersebut, mereka berpikir bahwa ibadah hanya berhubungan dengan ritual terhadap Tuhan dan dakwah adalah ceramah keagamaan. Padahal ibadah dan dakwah memiliki makna yang luas, seseorang yang berbincang atau berbicara dengan orang lain, itu bisa berarti dakwah jika dapat memberi pencerahan terhadap orang lain. Dan ibadah tak lain dari manifestasi berbuat kebaikan, baik disadari ataupun tidak. Karena itulah STUBA berusaha mendobrak anggapan tersebut.
Sekretariat STUBA berada dalam kampus Unisba. Ruang yang cukup luas itu diberi nama “dapur”. Filosofinya sendiri diambil karena dalam sebuah dapur terdapat alat-alat masak, bahan makanan dan bumbu. Manusialah sebagai subjek yang akan mengolahnya sebagai makanan. Kemudian, dapur ini dianalogikan pada tempat berkesenian di mana yang menjadi alat-alat bermasaknya, bahan makanan dan bumbu adalah alat-alat musik, kostum, make up, kertas, pena, kanvas, dan lain-lain, tinggal kita mengolahnya menjadi apa.
Sebagai teater kampus, STUBA rutin melakukan kaderisasi. Proses yang harus dilewati oleh calon anggota baru adalah pendidikan dan latihan di kampus (diklat kampus), unjuk kabisa (uji keberanian bertujuan sebagai evaluasi diklat kampus), pendidikan dan latihan di alam (diklat alam), dan terakhir resital. Resital merupakan sebuah pagelaran yang disiapkan dan dimainkan oleh anggota baru STUBA sebagai syarat wajib masuk keanggotan STUBA. Biasanya pimpinan produksi dan sutradara dipilih dari angkatan yang lebih atas. Proses resital ini juga berguna sebagai proses evaluasi dan praktek dari materi-materi yang disampaikan pada pendidikan dan latihan sebelumnya.
STUBA mempunyai kekhasan sendiri yaitu selalu menggunakan buatan sendiri (lazimnya mengadaptasi dari naskah luar) dalam setiap pagelarannya. Biasanya naskah tersebut berupa cerita babad, seperti Cuah! Karya Dadan Ruhanda, Guilletine karya Oban Sobana Alfaqir, Syeikh Siti Jenar, dll. Kendatipun tak ada divisi maupun pelatihan khusus tentang pembuatan naskah drama. Tetapi pada tahun 1999, seorang anggotanya yaitu Ahmad Nurcholis mendekontruksi sistem ini, lewat pagelaran Pinangan, di mana ia berperan sebagai sutradaranya. Pagelaran ini membuktikan pada publik bahwa STUBA dapat beradaptasi dengan naskah luar.
Pada tahun 2000, sebuah kejutan besar bagi teater di Bandung telah dilakukan STUBA dengan munculnya teater multimedia lewat garapan pagelaran Mega-Mega. Dengan konsep movie theater yang mengkolaborasikan teater sebagai seni pertunjukan dengan potongan-potongan adegan yang dijadikan film (diambil dari beberapa adegan dalam naskah) sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh. Gagasan ini muncul dari Yanti Wahyu Anita dan Ahmad Nurcholis sebagai sutradara dan asisten sutradara (astrada). Kesuksesan kolaborasi ini disusul kemudian dengan pagelaran Orang Asing pada tahun 2003 yang diracik oleh Yanti sebagai sang sutradara dan Bangkit sebagai astrada. Seiring dengan berjalannya waktu, STUBA telah menyuguhkan wajah baru teater yang dalam perkembangannya saat ini, teater multimedia sudah tak menjadi barang asing.
“Salam STUBA! Stu,…Stu…Stu…STUBAkekok!”
Agustus 2005-untuk STUBA
Pada suatu Sore
Pada suatu Sore
:mengenang satu hari penuh musibah
I.
Petang hening dan lenggang
Memandangi gugusan cemara
Daun-daun kering menepi tanah
Mentari membara malu-malu
Dan cicitan burung masih ramai
Memekik telinga alam
II.
Layang-layang mengudara
Anak-anak berlarian senang
Sementara mandala, terjerembab
Ratusan kepala jadi tak berguna
Berdiri dijembatan
Memandang aliran sungai
Jika saja air bah tiba-tiba datang
Manusia tersaput, nyawa hilang
III.
Jalanan padat merapat
Atom-atom debu mengawang
Api begitu saja menyeruak
Mengabukan yang terdekat
dan entah, tiang listrik patah
kabelnya menyambar sebuah bis
penumpang terjebak!
Waktu selaksa mengambang
IV.
Begitulah maut menggelayut
Tak ada waktu untuk peringatan
Apalagi menyelamatkan!
Di batas pergatian gelap terang
Entah dibelahan dunia mana
Tragedi mencengkram
5 September 2005