daunrerumputilalang


DECEMBER GREY
December 13, 2005, 7:24 am
Filed under: Uncategorized

DECEMBER GREY

            Sudah menginjak hari ke 13 desember tahun ini. Entah kenapa rasanya “grey” adalah judul yang paling tepat. Menjadi pribadi yang abu-abu di tengah himpitan segala kesibukan dan masalah, jalan keluarnya berjalan tanpa cap hitam juga putih. Bulan ini hujan turun hampir setiap hari, langit juga sering menampakkan warna abunya. Lalu abu jadi warna yang melekat dalam keseharian. Abu, segala warna biar melebur dan menjadi abu…

            Desember, bulan terakhir dalam penanggalan masehi. Tahun akan berganti! Lalu aku jadi begitu sentimental… apa yang sudah kulakukan selama tahun 2005 ini? Resolusi tahun kemarin hampir gagal total, harapan hanya tinggal mimpi. Hah! Suck!!! Terkadang aku begitu frustasi melihat orang-orang yang bergiat mengejar mimpinya… dari mana datangnya energi mereka? Dari tubuh-tubuh kecil yang ringkih? Sedang aku? Dalam setiap jengkal tubuhku tertimbun daging berlebih yang hanya jadi sekedar daging.

            Bukan sekedar pembelaan apalagi argument ketika kukatakan bahwa kini aku terlalu lelah untuk berpikir lain hal. Di otak ku hanya di penuhi sebuah tanggung jawab yang setengah mati ingin kuemban dengan baik. Masalah aku tidak produktif dalam menulis bukan lain sebab. Rasanya sudah lelah setelah bergulat seharian dengan tanggungjawab yang melahirkan pekerjaan yang tak henti-hentinya kukerjakan. Namun entah mengapa ada rasa cinta yang menyusup… ini semua tentang STUBA! sekawan teman membantuku dengan sungguh-sungguh, membuatku terharu dan enggan menyerah!!! Mereka adalah Deni, Ima, dan Irfan. Saat aku benar-benar lelah mereka masih tetap di sampingku. Tak lupa ku ucapkan terima kasih pada Mira, Oleh, Febri, Fitri, Yuli dan Attir yang keberadaannya tak bisa kuacuhkan begitu saja.

            Seperti siang ini, Ima membantuku mengerjakan apa yang seharusnya dikerjakan oleh teman lain, namun apakah harus pasrah begitu saja? Kami kerjakan apa yang bisa dikerjakan! Fitri datang dengan cerita-ceritanya, cukup membuatku tersenyum, dan Deni dengan kekonyolannya mampu mengubah lelah menjadi tawa.

            Saat yang paling menyebalkan dan menjadi pembelajaran adalah saat semua orang merasa jadi pintar. Seorang ketua harus menampung aspirasi rekan-rekannya. Dan semua orang yang memang mempunyai perhatian pada STUBA (sungguh aku berterima kasih pada kalian) menyampaikan apa yang menjadi uneg-uneg. Ide, keluh kesah dan keinginannya terhadap STUBA. Mereka yang peduli bukan saja anggota STUBA, ada partisipan atau hanya sekedar pendatang, membuatku mengingat luka lama yang teramat perih, luka yang di torehkan oleh mereka yang mengaku peduli pada STUBA, tepat beberapa saat lalu. Tidak jarang apa yang disampaikan begitu keras dan aku merasa digurui, hal yang paling aku benci. Seandainya saja aku bukan ketua, sudah kutinggalkan mereka! Namun aku tetap diam mendengarkan dengan sungguh-sungguh, menimbang bagaimana baiknya. Toh mereka akan merasa senang dengan hanya didengarkan, apa salahnya kutahan luapan emosi yang suatu hari hanya jadi sejarah! Perasaan yang ajaib, yang mungkin suatu hari akan kusyukuri keberadaannya. Mungkin itu jugalah sebabnya, kuputuskan menjadi manusia abu-abu. Dengan begitu bisa kulihat segala hal dari dua sisi. Objektif katanya. Kucoba…