Bunga 1
January 26, 2006, 10:41 pm
Filed under:
puisi
Bunga 1
: DR
Malam itu seusai perjalanan pendek kita
Kupetik setangkai bunga untukmu
Bukan bunga mawar dari kebun
Ataupun melati dari rumah kaca
Melainkan bunga liar
Sepertipun hari-hari lalu
Seusai perjalanan pendek kita
Kuselipkan bunga-bunga liar itu di tasmu
Kucuri dari jalan
Kucuri dari pot depan rumah orang
Kucuri dari tembok berbatu-batu
Kucuri dari taman
kota
Kucuri dari got
Kucuri dari hatiku
Entah berapa macam bunga-bunga itu kini?
Apakah kau memberinya tanggal?
Apa kau ,menyisipkan sejarah di dalamnya?
Ataukah kau laminating agar tak bercecer?
Apakah tetap kau simpan?
Walaupun layu,
bukankah harumnya masih tercium dihatiku?
Dan ceritakanlah padaku
Apakah warnanya kini,
sekuntum bunga berwarna ungu tak bernama itu?
Kumis kucing yang semula hijau dan putih?
Bunga terompet?
Bunga taik?
Bunga mu?
Tunggu ya, malam ini kau kubawakan 7 kuntum bunga krisan yang kucuri dari sebuah pesta perkawinan
Tunggu ya, karena yang ini istimewa
7 kuntum bunga perpisahan
Warnet, 26 Januari 2006
12:52 WIB
Perempuan yang Berlari dalam Hujan itu, Aku!
January 26, 2006, 10:14 pm
Filed under:
puisi
Perempuan yang berlari dalam hujan itu, aku!
Perempuan yang berlari dalam hujan itu, aku!
Kau yang mengintip dari balik jendela
Mencerna imajimu akanku
Dengan deras yang menjejal tanah
Perempuan yang berlari dalam hujan itu, aku!
Matamu jatuh pada sosokku.
Meninggalkan jejak-jejak becek. Bergerak
Mengikuti irama kabut. Pudar-merapat
Perempuan yang berlari dalam hujan itu, aku!
Bola matamu menyapu rupaku
Membentuk sebongkah Tanya?
Siapakah kau perempuan?
Dan
Perempuan yang berlari dalam hujan itu, aku!
Warnet, 19 Januari 2006
Rumah Impian
January 12, 2006, 11:00 pm
Filed under:
puisi
RUMAH IMPIAN
Sebuah rumah dengan cat hijau
Dihiasi gorden-gorden warna senada
Luasnya mencapai lapangan golf
Dengan taman-taman berbunga mawar
Sebuah klenengan ada digenggaman
Siap memanggil para pelayan
Buku-buku pintar berjejal-jejal
Berebut peran dalam lemari jati berkaca
Wahai impian…
Kapan kau datang sebagai kenyataan?
Aku lusuh dalam gubuk tak berbalut
Dihiasi rambat lancah dan benang laba-laba
Tak sepetak maupun sejengkal
Dengan bunga-bunga dendolion dan ilalang
Hanya celengan peninggalan
Berisi koin-koin karatan
Lembaran kertas buram menguning
Sekedar untuk merangkai bahwa
Aku pernah ada
Warnet, 5 Januari 2006
13:18 WIB
“!”
January 12, 2006, 10:50 pm
Filed under:
puisi
“!”
Dia melesat menuju jantungku
Bertualang dalam pembuluh darahku
Menyerang otakku
Memutuskan beribu safarku
Aku butuh kamu!
teriakku
Tenangkan kehampaanku…
bisikku
aku mencandunya
dengan atau tanpa persekutuan
aku mencarinya
hingga harus menemukannya!
Penuhi jiwaku
Dengan asapmu
Penuhi hidupku
Dengan nikotinmu
Tembekauku!
Warnet, 5 Januari 2006
January Dreaming
JANUARY DREAMING
Malam tahun baru yang berkesan. Aku, Mira,fitri, Deni, Febri, Dira, Yayan, Abu, Dodo, Bangkit, Hendro, dan Ate menghabiskan malam pergantian tahun di penanggalan Masehi bersama. Sebuah malam yang tidak direncanakan sebelumnya. Awalnya, aku ingin tahun baruan dengan keluargaku. Rasanya sudah dua tahun ini aku selalu menyambut tahun baru di luar. Tapi Deni, rekanku di STUBA bilang, ia sudah mengajak anak-anak baru (calon anggota STUBA) untuk datang ke STUBA dan malam tahu baruan di sini. Ku pikir ide Deni itu cukup asik, mungkin dengan mengadakan acara dadakan seperti itu, kami dan calon anggota baru STUBA akan semakin akrab. Ya sudah jadilah aku menjebakkan diriku di sarang bernama dapur.
Sebenarnya hari itu aku kurang enak badan, namun karena hari itu ada latihan monolog dan rapat pengurus STUBA, maka terpaksa kuseret kakiku! Selain fisikku yang sedang jelek, psikologisku juga sedang tidak menyenangkan. Baru saja kemarin aku broken heart, terdengar norak memang, tapi begitulah adanya. Akhirnya, rapat pengurus STUBA dilaksanakan dengan personil seadanya, aku maklum, pasti para pengurus yang lain ingin merayakan tahun baru di tempat lain. Untunglah rapat terlaksana dengan lancer, evaluasi perbulan dilakukan dengan baik. Latihan monolog pun terlewati, badanku lemas bukan kepalang.
Sorenya, kami bubar untuk melakukan ritual masing-masing. Kami berjanji untuk berkumpul kembali di STUBA malam harinya. Aku, Mira, dan Abu bergegas menuju kosanku di Tamansari bawah. Niatnya, kami ingin beristirahat sejenak, dilanjutkan dengan dengan curhat-curhat ringan. Aku dan Mira malah sempat untuk mandi dan sedikit berdandan (hehehe J). Lalu setelah gelap menyelimuti seluruh permukaan langit Tamansari, kami beranjak ke Warnet untuk mengetik draft acara Diklat STUBA XVI. Aku sempat tersenyum, ada ga ya orang yang ngerjain ginian di malam tahun baru?
Beberapa massage datang ke hp ku berupa SMS, kebanyakan menanyakan keberadaanku dan menyuruhku cepat-cepat menuju kampus. Kami tergopoh-gopoh menuju kampus, disambut kesunyian yang bisu. Anak-anak lain telah pergi entah kemana? Kami menunggu beberapa saat di depan akuarium UNISBA, tak lama batang hidung mereka muncul satu persatu. Lucunya, mereka semua, 2 kloter, pergi untuk menyusul kami. Hahaha…
Karena lapar, kami sepakat untuk mencari bahan makanan ke Gelael Dago atau lebih dikenal IndoMart sekarang. Naas, saat kami sampai, supermarket itu sudah tutup beberapa saat lalu. Kemudian kami berbelok ke Cicle K, membeli penganan secukupnya. Sebagian pulang ke kampus, seperti aku, Mira dan Yayan. Malam itu, sebenarnya Mira hendak diajak temannya untuk merayakan ulang tahun (makan-makan gitu deh!). Sialnya, temannya itu sudah menunggu Mira lebih dari 2 jam tanpa sepengetahuan Mira, karena ponsel Mira habis batre. Akhirnya karena kesal, temannya itu meninggalkan Mira.
Di tengah lapangan parkir UNISBA yang luasnya tidak seberapa, kami menggelar kain putih yang telah kusam oleh beberapa cat bibit, tak lupa sebuah api unggun kecil dinyalakan. Jagung mentah yang jumlahnya 3 buah pun dibakar, aromanya jelas menggoda. Dengan 3 piring nasi goreng, 2 botol Fanta, dan 3 plastik cemilan, kami merayakan tahun baru. Tepat bunyi terompet tanda pergantian tahun, kami menyerbu makanan-makanan itu. Karena pada dasarnya perut kami keroncongan, maka dalam sekejap makanan-makanan itu menghilang dari pandangan. Selanjutnya kami bersenang-senang dengan menyanyikan beberapa lagu. Seorang teman berinisiatif untuk membawa radio ke tengah lapang. Beberapa lagu yang berirama beat menjadi pilihan. Sesekali irama dangdut pun menggoda telinga kami. Dengan asik kami pun berjoget bak di tempat dugem. Fitri dengan malu-malu mulai ngedance, sebenarnya keahliannya yang satu itu telah di dapatkan semenjak SMU. Diikuti aku dan Mira. Deni dan Dira tergelitik untuk bergabung dan jadilah kami kontes Dance. Makin subuh, kami makin menggila. Tidak hanya kontes dance tapi mulai merambat pada kontes akting yang disesuaikan dengan musik. Sesekali Dodo ikut nimbrung.
Tanpa terasa, bintang-bintang turut hadir untuk kami, pertanda subuh mulai meraja seperti dingin yang mengigit, memaksa kami merapatkan sweater kami masing-masing. Lelah dengan tawa biar peluh disekujur tubuh. Kami tidur-tiduran diatas kain memandang langit yang cerah subuh itu. Esensi dari tahun baru yang bagiku jadi kabur pun tak kupedulikan, toh aku menikmatinya. Perenungan biarlah kulakukan sendiri. Yang kurasakan hanyalah kebersamaan, yang mengikis kesedihan. Tetap memandang langit, ada yang menggelitik. Sedang apakah pangeran kodokku? Entah dibelahan dunia mana kini ia? Aku selalu berpikir, ketika kulihat langit yang tenang, entah di belahan dunia mana terjadi pertikaian, pertentangan, dan terjadi tragedi. Namun Yayan benar, belahan dunia itu bisa jadi adalah hati kita sendiri.
January Dreaming,
Sebuah tema yang kuangkat bulan ini, mungkin setiap tahun pada bulan Januari. Awal tahun bagiku adalah sebuah harapan, sebuah waktu dimana segala otakku berpikir tentang mimpi. Mimpi adalah harapan yang harus di wujudkan. Memang harapan-harapan itu tak pernah tertulis pada secarik kertas. Namun telah tertanam di benakku. Resolusi tahun kemarin yang kebanyakan hanya jadi kuncup layu, kembang tak jadi. Namun tahun ini adalah waktu yang baru, dengan kekuatan baru, dengan harapan-harapan yang baru. Tentunya dengan resolusi yang baru. Tahun ini, aku mencoba menuliskan harapan-harapanku di sini.
Aku ingin membuat sebuah naskah drama.
Aku ingin membuat sebuah scenario film.
Aku ingin membuat dua buah film.
Aku ingin membuat sebuah novel.
Aku ingin menjadi sutradara film.
Aku ingin menjadi sutradara teater.
Aku ingin menjadi ketua STUBA yang bijaksana.
Aku ingin menjadi operator warnet yang handal.
Aku ingin cepat-cepat beres kuliah setidak-tidaknya semua mata kuliah yang kuambil lulus dengan nilai yang baik.
Aku ingin bisa menyayangi tubuhku sendiri.
Aku ingin menjadi penabung yang aktif.
Dan diatas semua itu, aku ingin membahagiakan semua orang yang kucintai. Mama dan Ayah, mereka yang senantiasa meneteskan air mata dalam keadaan khawatir dan cinta tulus (hanya merekalah yang memberiku cinta platonik), Eva, atas segala dukungannya, u’r the best soulmate I ever had sist! Teh Yunis, atas segala perhatiannya, u’r the best sist! Aa Jimi, atas segala pulsanya, bukan nominalnya tetapi pengetiannya! I really want to see u going merried! Kakak Indra, atas semua tumpangan motornya, tegalega-tamansari, membuatku terhindar dari keterlambatan. Dan seorang pangeran Kodok yang kelak menjadi suamiku! Aku ingin bisa membahagiakan mereka semua!
January Dreaming, mari kita bermimpi untuk kemudian mewujudkannya!!!
Warnet, 13 Januari 2006
-saatbanguyululangtahunke30tahun-