Untukmu yang telah menjadi Dewasa
April 18, 2006, 9:01 am
Filed under:
puisi
Untukmu yang telah menjadi Dewasa
: Muhammad Arfah
Mengulum sepi lewat sendiri
Kuhadirkan keterasingan menyayat
Kulahirkan bayi-bayi benci
Mengalunkan tangis nyinyir
Sampai pada satu masa
Suratmu disampaikan tanah
Disampaikan angin, disampaikan api
Padaku yang luka
Berceritalah rasa rindu itu
Masih tetap jenaka kau anak kecil
Namun rambut tipis telah tumbuh di dagumu
Meratapi aku yang tenggelam oleh malam
Maka nantikanlah
Ketika langit merah saga
Tangan kita akan berjabat
Berbagi luka menjadi suka
Warnet, 18 April 2006
-ketika mendengar puisi Gie yang dibacakan Nico, mengingatkanku akanmu-
SOMETIMES IN APRIL
SOMETIMES IN APRIL

Banyak yang akan dan telah terjadi di bulan April, pada suatu masa di bulan April. Terinspirasi dari judul sebuah film, namun tidak sedikitpun mengadopsi isi film tersebut.
Bulan setengah timbul tenggelam di atas langit, sinarnya terkalahkan oleh lampu jalanan berwarna mercury. Di tengah jembatan dekat sebuah bank pusat, aku duduk bersila menghadapi sosoknya yang juga bersila. Dini hari, namun tak ada rasa dingin yang menyelinap. Kami bercakap mulai tengah malam tadi sambil minum kopi dan menghisap rokok. Tak ada yang begitu penting yang diperbincangkan hanya obrolan sehari-hari, rutinitas ditambah masalah hati. Namun rupanya inilah yang ruwet bagi kami. Sebuah sikap telah kuambil dan kurenungi konsekuensinya. Terkadang kita harus kejam terhadap diri sendiri! Aku tak mau terpedaya hati lalu buta dan tuli. Aku mulai merasa terjebak dalam masalah ini. Maka harus kuakhiri di depan dia yang bimbang. Tak ada yang kusesali apalagi bermimpi untuk kembali seperti awalnya. Malam itu kunamakan “kematian euphoria”. Kami melangkah pasti ke sebuah taman balaikota, sekedar menikmati pagi yang menghampiri tanpa permisi. Daun-daun jatuh dan berserak. Seperti sebuah pengharapan yang layu. Kami menikmati kopi dan gorengan sekedar menahan lapar. Menikmati kicauan burung, orang yang berlalu lalang, sebuah kelompok lansia yang berolahraga. Dan kunikmati senyummu. Senyum yang menghantarku hingga lelap pagi. Kami berpisah di persimpangan jalan, aku ke kanan kau ke kiri. Tanpa sapa dan tawa, kutinggal kau yang bertanya-tanya. Pagi yang memberi penanda, hidup baru akan kulalui lagi. Katamu hidup adalah pilihan-pilihan, kenapa tak Happy Ending? Sayang bukan maksudku, sungguh, namun kita telah sama-sama memilih. Menepis kerikil sebelum ia menjadi batu.
Malam yang tak membuatku melihat bulan, kita jalan bersisian. Bercakap-cakap tentang jarak yang telah kau buat! Lalu kusesali, bahwa hatiku telah mati, untukmu. Buatku tak ada jalan lain selain berpisah di sini. Pangeran kodok, aku percaya kelak kau menemukan putri sejati.
Akhirnya pernikahan hanya jadi iming-iming yang sendu! Aku mau jadi manusia bebas! Tapi tidak berarti aku tidak ingin menikah, kelak, pasti! Sebuah komitmen yang telah berjalan 7 bulan, hilang begitu saja. Sungguh ini menyedihkan bagiku! Yang kupikir, semuanya berjalan sempurna, lelaki yang kutemukan adalah sosok paling sempurna, apa yang kuinginkan ada padanya. Aku baru sadar, ternyata kesempurnaan adalah kecacatan itu sendiri! Ternyata bukan apa yang kuinginkan tetapi apa yang kubutuhkan, aku ternyata juga telah gagal mengetahui apa yang kubutuhkan hingga silau oleh apa yang kuinginkan! Lelakiku, inilah akhir dari perjalanan kita.
Air mata kini tak pernah mewakili kesedihan ku, raga serasa ngilu dan mati. Hanya jeritan beresonansi tertinggi yang mampu ku gaungkan. Letih sekali… namun kembali pada hidup dan rutinitasku. Aku kembali memiliki kekuatan walau teseok-seok. Kekuatan itu kudapatkan dari STUBA, dari orang-orang yang mendedikasikan dirinya untuk STUBA. Dari ruangannya yang berdinamika dalam bisu. Ketika kulihat sosok-sosok yang memegang alat musik, memegang kabel dan lampu, tanpa mengenal siang dan malam. Untuk mereka yang meregangkan ototnya di sore hari, untuk kertas-kertas bercecer, untuk segala hal penuh perjuangan. Agenda STUBA seperti biasanya berjejal-jejal. Kami kelelahan, jatuh bangun! Agenda ke depan adalah Resital.
Ada
kebahagiaan diam-diam menyelinap, naskah yang ku buat akhirnya akan dipentaskan. Sebuah penghargaan yang tiada tertara bagiku yang pemula dalam menulis naskah. Lalu aku akan bersaing seperti biasa dengan Deni, karena kami sama-sama akan menyutradarai pagelaran resital ini. Jujur saja ketidakPDan ku sangat besar. Tanggung jawab menjadi seorang sutradara bukanlah hal yang kecil. Apalagi ini kali pertama aku jadi sutradara drama. Belum lagi akhir bulan akan ada up grading, dan parade mei, membuat kami harus rela melelehkan keringat.
Sometimes in April sampai pertengahan. Entah apa lagi yang akan terjadi hingga akhir? Semoga bulan ini bisa memberikan kebijakan dan kekuatan pada kita semua, sometimes in april becoming legend…
Warnet, 18 April 2006