Filed under: Catatan Bulanan
Lahir, Tumbuh, Berkembang dan Mati di Bulan Juni
Dunia terdiri dari makhluk-makluk indah yang Allah ciptakan. Manusia, binatang, tumbuhan dan yang tak terlihat tetapi ada. Kesemuanya memiliki siklus hidup yaitu lahir, tumbuh, berkembang dan mati. Luar itu entah ada atau tidak yang dinamakan reinkarnasi. Sesuatu yang belum tertuntaskan katanya melahirkan reinkarnasi, ataupun juga dosa-dosa di masa lalu. Hidup abadi dan tetap muda memang impian manusia, namun percayalah keindahan siklus hidup itu jauh lebih bernilai dari keabadian.
Bulan ini telah tejadi banyak peristiwa tentang siklus hidup, itulah yang memabawa saya untuk mengangkat tema ini pada Bulan Juni. Kelahiran ditandai dengan adanya perulangan tahun, dimana beberapa keluarga dan teman saya yang di STUBA ataupun bukan merayakan ulang tahunnya. Di mulai dari Teh Yunis, Fitri, Tina, Mamaku tersayang, Teh Joe, Abu, Teh Ima, Frog Prince, Pacarnya Asep (temen kosan v), Iep, dan yang paling istimewa adalah kelahiran seorang putra dari Eva yang bertepatan dengan hari ulang tahunnya Eva, sangat istimewa! Semoga kelak menjadi anak yang berbakti!
Setiap makluk yang hidup akan terus tumbuh dan berkembang. Baik secara fisik maupun psikologi. Secara fisik ditandai dengan bertambah tinggi, rambut memanjang, dan lainnya, secara psikologis ditandai dengan kecerdasan otak, tapi paling sulit adalah mengidentifikasi kedewasaan seseorang. Karena tidak bisa dilihat dari umurnya maupun dari fisiknya tapi dari cara berpikir dan sudut pandang melihat sebuah persoalan. Semoga saja kita sebagai manusia dan terutama saya sedang tumbuh dan berkembang menuju kedewasaan.
Kematian adalah seperti sebuah perpisahan yang abadi, dan puncak dari kehidupan adalah kematian menuju keabadian. Kematian selalu diidentikan dengan kesedihan. Ya begitulah yang saya alami ketika menyaksikan sebuah upacara kematian. GEMPA, begitulah kami memanggilnya. Seekor monyet kecil dari
Jogjakarta , di bawa oleh seorang temanku yang jadi relawan bencana alam di
Jogjakarta dan Jawa Tengah. Ketika Gempa sampai ke
Bandung , dia mengalami diare, entah karena mabuk perjalanan atau karena kurang bisa beradaptasi dengan cuaca
Bandung . Gempa didampingi oleh Wedus Gembel, seekor monyet lainnya lagi. Namun fisik Wedus lebih kuat hingga monyet kecil itu baik-baik saja. Pada satu senja yang cerah Gempa menghembuskan nafasnya yang terakhir, kala itu saya dan Teh Joe sedang berusaha menyuapinya pisang dan obat diare. Tapi rupanya kami datang terlambat. Badannya membiru, matanya kosong dan mulutnya terbuka. Gempa sempat terjatuh dari pohon yang menjadi rumahnya, mungkin karena lemas dan segera dipisahkan dari Wedus. Wedus yang tidak bisa mandiri mencari-cari pasangannya dari satu pohon ke pohon yang lain. Sehari setelah kematian Gempa, Wedus turun dari pohon, dia ditemukan tengah duduk di parkiran, wajahnya seperti kebingungan dan hilang arah. Setelah beberapa teman juga termasuk saya menghibur Wedus akhirnya dia bisa ceria kembali. Saya terheran-heran, betapa tajam perasaan seekor monyet, betapa dia bisa merasakan kehilangan yang sangat, lebih-lebih dari manusia. Wedus terlihat lebih manusiawi dari pada manusia yang bisa sangat cuek dalam menghadapi kehilangan. Atau begitulah manusia, entah tegar, apatis atau tidak mensyukuri memiliki sesuatu hingga saat kehilangannya.
Lahir, tumbuh, berkembang dan mati, betapa indahnya siklus makhluk hidup. Kematian, kadang menjadi momok yang mengerikan, sampai hari itu tiba, ingin rasanya saya memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Karena waktu yang telah lewat telah melaju dan tak pernah akan kembali, hanya jejak-jejak kenangan yang melekat pada ruang pikir kita yang bisa menghidupkan waktu bernama masa lalu.
Warnet, 20 Juni 2006