Filed under: Cerpen
Siapa yang nggak kenal Mc.D hari gini? Siapa yang nggak pernah ke Mc.D sekarang?
Ini bukan cerita tahun 2009, tapi cerita tahun 2000 alias Sembilan tahun yang lalu. Jadi jangan aneh kalau Evi dan kawan-kawan baru pertama kali ke Mc.D.
Mc.D didirikan tahun 1940 dengan dibukanya sebuah restoran oleh Dick dan Mac McDonald, di San Bernardino, California. Mereka memperkenalkan “Speedee Service System” pada tahun 1948, yang kemudian menjadi pinsip dasar restoran siap-saji moderen. Maskot awal McDonald’s, yang bernama Speede, adalah seorang pria dengan kepala berbentuk hamburger yang menggunakan topi koki. Speede kemudian digantikan oleh Ronald McDonald di tahun 1963.
McDonald’s saat ini tidak menjadikan tahun 1940 sebagai tahun kelahiran restoran McDonald’s. Mereka memilih 15 April 1955, ketika Ray Kroc membeli lisensi waralaba McDonald’s dari Dick dan Mac di Des Plaines, Illinois, sebagai hari kelahirannya. Kroc kemudian membeli saham dari McDonald’s bersaudara dan memimpin perusahaan ini melakukan ekspansi ke seluruh dunia.
Restoran McDonald’s pertama di Indonesia terletak di Sarinah, Jakarta dan dibuka pada 23 Februari 1991. Berbeda dari kebanyakan restoran McDonald’s di luar negeri, McDonald’s juga menjual ayam goreng dan nasi di restoran-restorannya di Indonesia. Awalnya Mc Donald masuk ke Indonesia pertama kali sebagai perusahaan burger dan kentang. Karena masyarakat Indonesia tidak terbiasa makan burger dan kentang, segmennya jadi sangat terbatas. Inovasi produk pun dilakukan yaitu berupa tersedianya ayam goreng dan nasi. Dengan langkah tersebut, Mc Donald berhasil meraih pasar.
Dengan ekspansi agresifnya ke seluruh penjuru dunia, McDonald’s dijadikan sebagai simbol globalisasi dan penyebar gaya hidup orang Amerika.
Globalisasi dan gaya hidup yang berasal dari Amerika ini ternyata kurang cocok diterapkan di Indonesia pada awalnya. Pantas saja jika terjadi culture shock atau kejutan budaya. Mau bukti? Simak cerita Evi dan kawan-kawan.
Cerita berawal dari sore hari yang cerah, dimana sekelompok orang sedang minum kopi untuk sekedar melepas lelah. Ruangan yang luasnya 3×6 meter itu diisi oleh sekitar lima orang. Mereka adalah Evi, Eva, Gehenk (yang kalau di bahasa Indonesiakan artinya hitam banget gara-gara kebakar matahari-red), Dian, dan Cepi. Iseng-iseng mereka ngobrolin tentang makanan dan layanan pesan-antar, yang merujuk pada satu tempat makanan yaitu Mc.D.
“Lapar nggak? Kita telpon aja yuk 14045.” Usul Gehenk.
“Alah kaya yang pernah aja makan di Mc.D, biasa juga makan di warteg.” Ledek Cepi.
“Ya pernah dong. Tapi udah lama sih. Kapan ya?” Gehenk mencoba mengingat-ingat.
“Eh pertama kali ke Mc.D kalian pernah ngalamin yang aneh-aneh nggak?” Tanya Evi.
“Maksudnya?” Eva bertanya balik.
“Gini, dulu pertama kali ke Mc.D kelas satu SMU. Tahun 2000, waktu itu kan Mc.D blom sekesohor sekarang. Nah ceritanya, pas mau cuci tangan V bingung. Keran airnya kan rada aneh gitu, ga bisa diputer, tapi diteken. V puter-puter airnya nggak keluar-keluar, mana yang mau cuci tangan ngantri lagi. Maluuuu… banget. Eh, ada cowok di sebelah neken keran, airnya keluar. V ikutin aja. Tahunya, di atas keran ada tulisan TEKAN DI SINI. Ih malu banget deh.”
“Huahaha… bodo banget!” Komentar Eva.
“Hehehe.. tapi eik juga pernah tuh kaya gitu. Waktu itu, eik lagi kencan sama pacar. Si pacar ngajak ke Mc.D. padahal eik nggak tahu menahu soal Mc.D, baru pertama kali sih. Kita masuk aja ke dalam, eik langsung duduk aja di meja terdekat, si pacar ngajak pesen makanan. Eik bilang aja samain makanannya, padahal eik nggak ngerti gimana pesennya. Biasanya kan kalau di restoran kita dilayanin sama waiter, tapi di Mc.D kita yang mesti bawa pesen dan bawa makanan sendiri. Anehnya juga pesennya di kasir. Untung si pacar baik, dia mau pesenin plus bawain makanannya. Dia aja nggak tahu kalau eik gagap Mc.D.”
Mereka semua terpingkal-pingkal sambil memegang perut.
“Itu mah pengalamannya sama kayak sayah. Bedanya pacar sayah mah nggak baik, dia maksa sayah ikut ke kasir buat pesen, soalnya dia juga baru pertama kali ke Mc.D. karena kita berdua sama-sama nggak ngerti gimana pesennya kita asal tunjuk aja ke papan menu. Kebetulan lagi ada promo gitu, yang pake jam pasir. Kalau makanannya belum siap pada saat pasirnya jatuh semua ke bawah, kita dikasih bonus kentang goreng, kalau nggak salah. Ya udah saya nyoba aja, Mc.D lagi penuh banget soalnya jam makan siang, jadi aja pasirnya udah jatuh semua, makanan belom siap. Si pelayan ngasih sayah bonus kentang. Sayah bilang aja bonusnya boleh nggak diganti sama jam pasir? Eh malah diketawain sama pelayannya.” Kenang Cepi sambil tertawa-tawa.
Mereka semua kembali terpingkal-pingkal, kali ini lebih heboh sambil mukul-mukul kursi.
“Parah-parah…” komentar Evi setelah semua tawa mereka mereda.
“Wah Kalau temen Va ada yang lebih lucu lagi pengalamannya. Namanya Anggi. Ceritanya, abis pulang sekolah kita segank makan di Mc.D. Tiba-tiba Anggi permisi mau ke WC. Keluar dari WC rok sekolahnya basah banget. Kita ketawain Anggi, kita kira dia kencing di rok, tahunya… WC Mc.D beda sama WC di rumah-rumah kita, WCnya nggak jongkok tapi duduk. Udah duduk, nggak ada ember sama gayung. Anggi bingung mau cebok gimana, ternyata di bawah ada semacam keran. Karena penasaran, Anggi puter kerannya, tahunya ada air keluar dari WC duduk itu dari semacam pengait yang ternyata saluran air buat cebok. Basah deh roknya. Anggi matiin kerannya. Tapi nggak nyerah buat cebok, akhirnya diteken deh tombol buat nyiram air, nah keluar kan air dari pinggir-pinggir WC duduk. Anggi ambilin airnya pake tangan dari situ buat cebok”
Mereka ngakak sampai muka menjadi merah dan air keluar dari sela-sela mata.
“Bener-bener deh kalian, emang parah banget! Untung aja aku belum pernah ke Mc.D.” ucap Dian yang dari tadi nggak berkomentar banyak
No Comments so far
Leave a comment
Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>