daunrerumputilalang


Buat DK
March 20, 2007, 7:51 am
Filed under: puisi

Buat DK

 

Dalam liriklirik
lagumu

Kutemukan jiwa yang semangat

 

Dalam lariklarik
puisimu

Kutemukan jiwa yang hangat

 

Dalam keterceraian

Kita temukan jiwa yang
sekarat

 

Ijinkan aku
mengabadikanmu

Dalam nadanada, perempuan

 

Ijinkan aku
mengabadikanmu

Dalam syairsyair,
lelaki

 

Menyemaikan

apa yang tak
terucapkan

apa yang tak
tersampaikan

 

Ijinkan kami bertemu

Sekali lagi

Di langit

Si ujung sabit milik
malam

Menabur sekerajang
benih

Bintang

 

16 Maret 2007



Matang
February 20, 2007, 9:16 am
Filed under: Uncategorized

Matang

 

Tak pernah matang aku

Menantang

malang

 

Rancaupas, Februari 2007



Jogja In Memory
February 20, 2007, 9:12 am
Filed under: Uncategorized

Jogja In Memory

 

Pada perjalanan dini hari

Ada

kobaran semangat di mataku

Membakarmu, memaksamu

Menjajal langkah bersama

 

Tak pernah ada perbincangan

Hanya obrolan berkarat

Sementara purnama menyesatkan

Kita yang mabuk karena kabut

Kabut gejolak, kabut kemelut

 

Mengakhiri perjalanan pada sebuah pagi

Tanpa kehadiran matahari

Pada lekuk lenganku, kau

Sisipkan lengkung lengamu

Bersisian menjelang lelap

Menjemput mimpi yang dijegal hari

 

Februari,2007



Untuk Dino
February 20, 2007, 8:47 am
Filed under: puisi

Untuk Dino

 

Serupa pohon jati

Yang meranggas dedaun

Dihembuskan musim

 

Januari,2007



Untuk Karung
October 30, 2006, 6:50 am
Filed under: puisi

UNTUK KARUNG

 

 

Sederat kata

Sederat angka

Masihkah mewakili?

 

Sederat kata terbang mengepak sayap

Sederat angka hinggap di dahan usia

Pohonmu berdiri tegak

Daunnya merangkai sejarah

Akarnya menjelma cerita

Kulitnya matang berbicara

 

Biar kutebak umurmu?

 

Kutuliskan pada pelangi seusai hujan

“Selamat Ulang Tahun!”

 

 

 

Bandung

,
Okt ‘06



FABEL
October 30, 2006, 6:39 am
Filed under: puisi

FABEL

: Hto

 

Kotak itu berisi

padang

rumput.

Padang

rumput itu tempat tinggal KERBAU dan
KANCIL. Kerbau dan Kancil memupus dahaga di sungai. Sungai bening mengalirkan
perahu dedaunan.

 

Sebuah legenda Cina kuno
mengatakan, “Perahu dedaunan dialirkan ke sungai, sejauh mata memandang tak ada
hambatan. Sepasang kekasih bersatu selamanya”.

 

Kerbau dan Kancil berlarian di

padang

rumput kehidupan.
Rumputnya bergoyang ditiup angin. Angin kenangan menghembuskan kerinduan,
kesedihan dan kebahagiaan serupa bunga mekarlayu pada

padang

rumput kehidupan.

 

“Kek, Nek, ceritakan pada
cucu-cucumu ini, tentang fabel Kerbau dan Kancil yang hidup di

padang

rumput…” . Dan kotak itu pun terbuka
kembali.

 

 

Bandung

, 26 Okt ‘06



Ramdhan Kali Ini
October 30, 2006, 6:22 am
Filed under: puisi

Ramadhan Kali ini

 

Ramadhan kali ini berlalu dengan tenang

Sedikit godaan, sedikit hikmah dating

Ada

saat aku bersimpuh di kaki-Mu

Melantunkan doa tentang kehidupan

Kerisauan masa depan

 

Ramadhan kali ini hilang tanpa bayang

Sedikit dzikirku, mengingat-Mu lalai

Pintaku sepanjang jalan

Durhaka benar hamba-Mu Tuhan

 

Tiba saat hari kemenangan

Tak ada kedamaian terasakan

Tak ada kebahagiaan atau pun kesedihan

Ramadhan mendatang aku berhutang

 

Bandung

,
26 Okt ‘06



LELAH
September 4, 2006, 9:48 am
Filed under: puisi

LELAH

 

 

Melelahkan memang membunuh sepi

Yang tergenapi dengan pergimu

Harusku tersenyum liahat kebahagiaanmu

Karena penantianku serupa belati menghujam dadamu

 

Meletihkan adanya menapaki sunyi

Tak beralas kaki jelas terlukai

Sedang ka uterus merasuki diri

Dan air mata senantiasa merapuhi

 

2 September 2006



Tuhan, Begitu Pencemburukah Engkau?
September 4, 2006, 9:40 am
Filed under: puisi

Tuhan, Begitu Pencemburukah Engkau?

 

Tuhan, begitu pencemburukah Engkau?

Saat kucintai makhluk ciptaanMu

Kau renggut hingga ia berlalu

Tanpa peduli aku menunggu

 

Tuhan, begitu pencemburukah Engkau?

Mana fikirku senantiasa untuk kasihku

Kau geliatkan dia pada indah masalalu

Tinggalkanku tanpa ragu

 

Tuhan,

Kini kau dan keakuanku

Puaskah Kau?

Lalu Aku?

 

2 September 2006



Bayangan
August 30, 2006, 10:26 pm
Filed under: puisi

Bayangan

 

Tuhan menjadikanmu bersekutu
dengan bayangan dan impian. Lalu kau bebas terbang dan menapak pada
lembaran-lembaran jiwaku. Betapa sesat aku saat mengurai labirin hatimu. Gelap
begitu gelap segelapgelapnya gelap. Terang begitu terang seterangterangnya
terang. Tetap aku buta. Jemukah aku melarung

padang

es jiwamu? Dalam alpa pun kunyalakan
api, dalam gersangpun kunyalakan api, dalam terbakarpun kusisakan bara. Karena
Tuhan menjadikanmu bersekutu dengan bayangan dan impian, aku tak

kan

lari kemana…

 

29-31 Agustus 2006